“Lihu Lo Lilu” Mandi Safar 1446 H, Bupati Iskandar Ajak Masyarakat Pertahankan Tradisi dan Budaya Daerah

by -1332 Views

Tradisi Mandi Safar di Bolaang Mongondow Selatan: Warisan Sakral yang Menyatukan Warga di Tepi Sungai

News Bolaang Uki — Di tengah derasnya arus modernisasi, masyarakat Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan tetap setia menjaga salah satu tradisi leluhur yang sarat makna spiritual dan kebersamaan, yaitu Tradisi Mandi Safar. Upacara adat ini digelar setiap akhir bulan Safar dalam kalender Hijriyah, sebagai bentuk rasa syukur sekaligus doa bersama agar seluruh masyarakat senantiasa diberi keselamatan, kesehatan, dan dijauhkan dari segala bala.

Tradisi Mandi Safar tidak sekadar prosesi membasuh diri, melainkan simbol penyucian batin dan refleksi spiritual atas perjalanan hidup selama setahun. Biasanya kegiatan dimulai dengan pembacaan doa bersama di tepi sungai, dipimpin oleh tokoh agama dan adat, diikuti dengan mandi beramai-ramai sambil memercikkan air ke sesama peserta sebagai tanda keberkahan dan persaudaraan.

Tahun ini, pada Rabu (4/9/2024), tradisi sakral tersebut kembali digelar dengan penuh semangat di bawah tema “Lihu Lo Lilu” — yang dalam bahasa daerah berarti bersatu dalam kebersihan lahir dan batin. Acara berlangsung di Desa Pakuku Jaya, Kecamatan Tomini, dan dihadiri langsung oleh Bupati Bolaang Mongondow Selatan H. Iskandar Kamaru, S.Pt., M.Si, didampingi Ketua TP-PKK Kabupaten Ny. Hj. Selpian Kamaru-Manoppo, serta para tokoh masyarakat, perangkat desa, dan ribuan warga dari berbagai penjuru kecamatan.

Suasana begitu meriah sekaligus khidmat. Sejak pagi hari, warga sudah berdatangan ke bantaran sungai yang menjadi lokasi acara. Para ibu membawa makanan tradisional seperti sinole, kue cucur, dan nasi jaha untuk disantap bersama usai prosesi mandi. Sementara anak-anak tampak gembira bermain air, mencipratkan percikan kebahagiaan di bawah teriknya matahari.

Dalam sambutannya, Bupati Iskandar Kamaru menegaskan bahwa Tradisi Mandi Safar merupakan bagian penting dari identitas budaya masyarakat Bolsel yang harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi muda. Ia menekankan bahwa kegiatan ini tidak hanya bernilai spiritual, tetapi juga memperkuat tali silaturahmi antarwarga.

“Tradisi Mandi Safar adalah wujud rasa syukur kepada Allah SWT dan doa bersama agar kita semua dijauhkan dari marabahaya serta diberikan keberkahan hidup. Ini juga momentum untuk mempererat persaudaraan dan menghidupkan kembali nilai-nilai gotong royong,” ujar Iskandar Kamaru di hadapan peserta.

Bupati juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh masyarakat Kecamatan Tomini yang terus konsisten melestarikan budaya ini dari tahun ke tahun. Menurutnya, pemerintah daerah berkomitmen menjadikan Mandi Safar sebagai agenda budaya tahunan Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan, yang tidak hanya bernilai religius tetapi juga berpotensi menjadi daya tarik wisata budaya.

“Kami akan terus mendukung kegiatan-kegiatan budaya lokal seperti ini. Tradisi Mandi Safar bukan sekadar ritual, tapi juga warisan leluhur yang mengandung filosofi kebersihan, keikhlasan, dan rasa syukur. Nilai-nilai inilah yang harus kita tanamkan dalam kehidupan sehari-hari,” tambahnya.

Ketua TP-PKK Ny. Selpian Kamaru-Manoppo dalam kesempatan yang sama menuturkan bahwa kegiatan Mandi Safar juga menjadi sarana edukasi bagi anak-anak dan remaja tentang pentingnya menjaga warisan budaya daerah. Ia mengajak seluruh keluarga di Bolsel untuk menjadikan tradisi ini sebagai ruang kebersamaan lintas generasi.

“Anak-anak harus tahu bahwa mandi safar bukan sekadar bermain air, tapi sarat makna spiritual dan sosial. Inilah kearifan lokal kita, yang mengajarkan rasa syukur dan kebersamaan dalam kesederhanaan,” tutur Selpian.

Kegiatan “Lihu Lo Lilu” tahun ini berlangsung semarak dengan berbagai acara pendukung, seperti lomba perahu hias, parade adat, doa bersama lintas desa, dan pertunjukan seni daerah. Para pemuka agama dan tokoh adat turut memberikan tausiyah singkat mengenai nilai-nilai religius di balik Mandi Safar, menekankan pentingnya menjaga kebersihan diri, hati, dan lingkungan.

Menurut penuturan tokoh adat Hi. Tohir Mamonto, tradisi Mandi Safar telah dilakukan turun-temurun sejak masa kerajaan Bolaang Mongondow sebagai bagian dari ritual tolak bala. Meski dahulu dibalut dengan unsur adat dan simbolik, kini praktiknya diselaraskan dengan ajaran Islam tanpa meninggalkan nilai-nilai luhur budaya lokal.

“Dulu, nenek moyang kita percaya bahwa bulan Safar adalah masa ujian dan musibah. Karena itu, mereka melakukan mandi bersama sebagai simbol pembersihan diri dari hal-hal buruk. Sekarang maknanya lebih luas — bukan soal kepercayaan, tapi tentang introspeksi dan kebersamaan,” jelasnya.

Tradisi ini menjadi bukti bahwa masyarakat Bolaang Mongondow Selatan mampu menjaga harmoni antara adat dan agama, serta menjadikannya sarana memperkuat jati diri daerah. Di tengah arus globalisasi dan modernisasi, Mandi Safar tetap hidup dan berkembang, tidak hanya sebagai ritual keagamaan, tetapi juga sebagai simbol persatuan, kearifan lokal, dan kebanggaan kolektif masyarakat Bolsel.

Menjelang siang, acara ditutup dengan doa bersama dan pembagian air yang telah didoakan, dipercaya membawa keberkahan bagi keluarga yang membawanya pulang. Di wajah warga, terpancar rasa syukur dan harapan bahwa tradisi ini akan terus lestari di bumi Bolsel untuk generasi mendatang.

telkomsel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.